Sejarah Teknologi PC (Personal Computer)

Pada tahun 1977 sebenarnya ada 3 perusahaan Amerika yg berhasil memelopori produksi PC dan memasarkannya:

  1. PET (Commodore),
  2. Apple II (rintisan Steve Jobs & Steve Wozniac) dan
  3. Β TRS-80 (Tandy RadioShack).

PET (Commodore) dan Apple II menggunakan mikroprosesor 6502 produk MOSTEK yang mulai diproduksi 1 tahun sebelumnya: 1976. Sedang TRS-80 menggunakan mikroprosesor Z-80 produk Zilog. Memori (RAM) yang digunakan pada produk PC generasi saat itu awalnya hanya 4 KB (tahun 2020, RAM PC minimum yo 4 GB, lah πŸ™‚ ). Tapi kemudian kapasitas memori tersebut dengan cepat bertambah menjadi 16 KB, dan kemudian “akhirnya” mencapai 64 KB sesuai dengan kapasitas maksimum kemampuan akses prosesor 8 bit yang digunakan di atas πŸ™‚ .

Baik mikroprosesor 6502 maupun Z-80 adalah mikroprosesor “generasi II” 8 bit pada saat itu menggunakan teknologi IC yg menggunakan transistor NMOS (Metal-Oxide Semiconductor, n-channel) sama dengan mikroprosesor 8080 produk Intel (juga 8 bit), perusahaan semikonduktor yang memelopori produk komponen mikroprosesor yang pertama di dunia : Intel 4004 (4 bit) sewaktu melayani order perusahaan pembuat kalkulator dari Jepang: BUSIKOM di tahun 1971. Tetapi hingga saat itu prosesor INTEL 8080 yg “sangat legendaris” ini justeru belum digunakan pada produk PC πŸ™‚ .

Untuk aplikasi prosesor pada PC, secara ‘diam-diam” INTEL memiliki “agenda inovasi” yg berbeda. Antara tahun 1976-1978 INTEL mengembangkan produk mikroprosesor “khusus” untuk PC: Intel-8086. Ini merupakan prosesor 16 bit “rintisan” yang merupakan “revolusi teknologi” pada saat itu. Untuk memasok industri PC, INTEL kemudian meluncurkan produk yg agak berbeda: Intel-8088 yang secara internal setara dengan Intel-8086 tetapi secara eksternal jumlah pin-nya lebih sedikit (menggunakan multi-plexing), saya rasa dengan tujuan menghemat jumlah pin pada kemasan / packaging nya agar memudahkan perancang Motherboard PC yang menggunakan prosesor ini. IBM pada tahun 1981 / 1982 kemudian meluncurkan produk IBM-PC pertama yang menggunakan prosesor 16 bit: Intel 8088 ini.

Bagaimana dengan Indonesia? siapa yang mulai memelopori penggunaan PC di Indonesia? ini bisa dilakukan survei sejarah “budaya” yang menarik πŸ™‚ . Saya hanya bisa menduga, ada 3 kalangan yg memelopori penggunaan PC di Indonesia :

  1. Perusahaan Asing / Multinasional (misalnya IBM atau juga Oil Company) yg beroperasi di Indonesia
  2. Perusahaan BUMN besar seperti PT Telkom dan PERTAMINA,
  3. kalangan kampus / Universitas, dan
  4. Β Komunitas pengguna GAME elektronik / e-Gamers πŸ™‚

Yang paling menarik justeru yg komunitas GAMERS ini, karena sebenarnya perkembangan sebagian produk PC di Amerika juga di-motivasi oleh kebutuhan para pengguna GAME elektronik. Saya bahkan menduga, perkembangan kinerja tampilan gambar / GRAFIK pada layar monitor –serta suara / speaker pada PC 8-bit awalnya di-motivasi oleh kebutuhan atau pasar untuk para Gamers. Karena untuk aplikasi pekerjaan administrasi / perkantoran, pada awalnya hanya dibutuhkan untuk pengolahan data angka dan tulisan (teks).

Pengolahan gambar menggunakan PC mungkin baru muncul belakangan setelah generasi IBM PC (16 bit) diluncurkan. Jadi jika untuk Indonesia, saya menduga, para e-GAMERS merupakan salah satu kalangan yang memelopori penggunaan PC. Kesan saya, PC Apple II (apalagi PET Commodore) awalnya memang mungkin lebih banyak digunakan para hobbyist elektronika serta para pengguna e-Gamers. Baru sejak IBM PC diluncurkan, PC mulai digunakan untuk “pekerjaan serius” untuk mengolah dokumen dan data di kantor-kantor. Kursus-kursus komputer di Indonesia saya rasa baru marak sejak diluncurkannya PC generasi IBM PC ini (mungkin sejak tahun 1985).

Bagaimana dengan dunia kampus? yang jelas saya pertama kali melihat dan “menyentuh” benda yang namanya PC itu tahun 1982 sewaktu teman kost saya (mahasiswa Teknik Mesin ITB angkatan 1978) membeli Appe II dan ditaruh di kamar kost nya. Beliau menggunakannya untuk kegiatan serius : melakukan perhitungan rancangan Sistem Pendingin Ruangan — menggunakan bahasa BASIC serta untuk menulis naskah Skripsi / Tugas Akhir beliau. Harganya waktu itu Rp 750 ribu (7.5 x beaya hidup sebulan mahasiswa di Bandung :v ) . Saya waktu itu masih kuliah di tahun ke II sempat nebeng pinjam hanya untuk sekedar mengenal penggunaan Program Word-Processing (WordSTAR) dan mencoba Program BASIC yang sederhana. Harga IBM-PC XT waktu itu kalau tidak salah : Rp 1.5 juta = 15 X beaya hidup per bulan mahasiswa di bandung :v .

Sekitar 3 tahun kemudian, IBM PC mulai “masuk kampus. Tahun 1985 saya beruntung, perangkat IBM PC milik “Divisi Komputer” HME (Himpunan Mahasiswa Elektro) ITB setelah ikut kegiatan pameran sempat dititipkan di kost saya sekitar 1 minggu, bisa saya gunakan untuk mencoba latihan membuat program.

Ada “masalah” yg menarik di bahas di sini, yaitu bahwa PC sebagai “revolusi” budaya perlu proses 1 – 2 tahun untuk mulai “diterima” di kampus seperti ITB. Kalau boleh membuka “Aib / Dosa Organisasi” sedikit πŸ™‚ . Ada kesan “resistensi / keengganan / kelambatan” pihak kampus ITB dalam menerima PC sebagai sebuah “infrastruktur kegiatan Pendidikan dan Riset” πŸ™‚ . Kalau di level personal / pribadi para DOSEN, saya mengerti sekali, Gaji Dosen PNS di Indonesia per-bulan waktu itu rata-rata mungkin hanya Rp 250 – 350 ribu. Jadi untuk membeli sebuah Apple II, seorang Dosen PNS rata-2 harus menabung 2 – 3 kali uang gaji πŸ™‚ . Kalau untuk IBM PC mungkin harus menabung 6 x gaji. Kalau di jaman sekarang untuk membeli Laptop “biasa” yg harganya +/- Rp 3 juta, seorang Dosen…

Jadi sudah BUKAN RAHASIA lagi, di kisaran tahun 1982 – 1984 beberapa mahasiswa ITB (yg kebetulan orang-tuanya mampu membelikan PC) waktu itu lebih TECHNOLOGY-SAVVY dibanding rata-rata Dosen ITB yg (mayoritas) sepertinya BELUM-MAMPU beli PC dan tahunya -mungkin- hanya Teori Pemrograman Komputer Besar (Mainframe) yg menggunakan bahasa FORTRAN (dan mungkin COBOL) yg –awalnya– tidak bisa diterapkan secara interaktif .

Pembuat program harus menulis programnya (FORTRAN) pada sebuah formulir khusus dgn Pena, lalu Formulis ini diserahkan ke Loket Pusat Komputer. Lalu oleh Petugas Loket Program tulisan tangan pada formulir akan di “ketik” ke sebuah Mesin khusus yang mengubah setiap baris program (80 huruf/baris) menjadi 1 kartu berlubang (punch card). Barulah tumpukan kartu berlubang ini di “baca” oleh mesin pembaca Komputer-Besar (Mainframe) kemudian di “Compile”. Jika tidak ada kesalahan sintaks, baru program tsb “di jalankan / di run”. Umumnya para pemrogram pemula yg baru belajar akan sering membuat kesalahan Sintaks (kesalahan bahasa), jadi proses di atas seringkali harus di-ulang dari NOL lagi πŸ™‚

Baru sejak sekitar tahun 1985 Pusat Komputer ITB di-ubah menjadi PIKSI (Pusat Ilmu Komputer dan Sistem Informasi) yang mendapat sumbangan dari IBM berupa 1 unit Mainframe IBM dan terminal-terminalnya. Sejak saat itulah seorang pemrogram bisa membuat program secara interaktif menggunakan “terminal” IBM (terdiri dari Keyboard dan Layar Monitor). Tetapi jumlah terminal ini juga terbatas.

Bagaimana dengan sikap kampus ITB sebagai lembaga dalam meng-adopsi revolusi PC waktu itu ? menurut saya: Enggan dan Lamban ! πŸ™‚. Seingat saya sampai tahun 1984, bahkan Jurusan Teknik Elekro ITB sebagai sebuah unit kerja lembaga Pendidikan Tinggi Teknik termasuk “terlambat” untuk invest PC. Hanya ada 1 buah komputer WANG (mirip PC) sumbangan sebuah perusahaan yg bisa dipakai mahasiswa denga mengantri. Pengalaman “agak pahit: yg saya alami sebagai mahasiswa Teknik Elektro ITB: ketika mendapat Tugas Metode-Numerik dari dosen, saya terpalsa nebeng pakai fasilitas Komputer ukuran-menengah (Mini PC?) yg dimiliki Jurusan PLANOLOGI ITB. Untung kepala Lab (pak Widi) baik, meskipun sempat nanya saya: “Lho, anda kan mahaswa Teknik Elektro, emang di sana tidak ada Komputer?” trus harus saya jawab bagaimana? …

Baru sejak akhir 1985 / 1986, Lab Elektronika –salah satu Lab di bawah Jurusan Teknik Elektro ITB– mulai invest beberapa PC. Sejak memulai Tugas Akhir di Lab Elektronika di tahun 1986 saya mendapat akses pinjaman PC di Lab ini , jadi “aman” πŸ™‚ . Belakangan saya baru paham, proses pengadaan PC di Lab ini sempat mengalami hambatan, karena beberapa dosen senior memandang bahwa PC itu “barang mahal” , dana yg ada lebih baik dibelikan alat pendidikan yg lainnya. Saya mengerti “Cultural-Clash” : seperti ini juga terjadi di unit-unit kerja yg lain di kampus ITB πŸ™‚ .

Situasi serupa terjadi ketika awal masuknya INTERNET di ITB sekitar tahun 1991/1992. “Hambatan” juga muncul dari pejabat-2 kampu s / dosen-dosen senior — yg saya paham, rata-rata tidak mengalami dan akibatnya tidak memahami pentingnya sebuah Data-base dan sebuah jaringan komputer, not even a LAN (local Area Network), let alone an INTERNET. Sementara mungkin sebagian dosen generasi muda yg sempat memakai dan mengalami “enaknya” Internet di negara maju jelas mendukung INTERNETISASI kampus πŸ™‚. Seingat saya tahun 1992 baru ada Internet “rintisan” di kampus ITB yg masih menggunakan Dial-Up via Modem ke kampus UI, lalu dari UI baru akses ke jaringan Internet “global”. Saya rasa untuk Internet di masa itu UI agak lebih “progresif” dibanding ITB . Lha di sana kan ada FASILKOM (Fakultas Ilmu Komputer) yang cukup “powerful” dan “berpengaruh” di UI πŸ™‚.

Seingat saya, pengolahan data-akademik (misalnya nilai mahasiswa) di Jurusan Teknik Elektro ITB hingga tahun 1987 masih dilakukan secara manual: Transkrip Nilai masih diketik secara manual. Mungkin baru mulai tahun 1990 digunakan PC untuk mengetik transkrip. Sedang pengolahan data akademik yg sudah menggunakan Database mungkin saja baru dimulai tahun 1994/1995.

Penulis: Ir. Farkhad Ihsan Hariadi M.Sc.

 

This entry was posted in Industri Elektronika. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.