Khan Academy Dan Kelengkapan Pendidikan Mahasiswa

Beberapa tahun terakhir ini ada fenomena ‘Khan Academy’ yang antara lain dibahas di  artikel “khan-academy-update-its-hard-to-imagine-how-much-hotter-this-tech-can-get” yang kalau diringkas dengan kata kunci yang cukup menarik:

  • “36 year old Salman Khan” ,
  • “Great people are attracted to great people and great visions”,
  • “2011 – 1 Guru, 10 ribu murid”, “2013 -> Tim 30 orang of lecturer relawan, top engineer, billionairs, phylatropist,
  • “10 juta murid hanya untuk USD7juta operating budget”

Berikut di bawah ini komentar dari bapak Adi Indrayanto (staf dosen STEI) tentang fenomena tersebut:

Yang dikembangkan Khan menarik, apalagi dengan memanfaatkan TIK sehingga bisa menjangkau lebih besar audience (siswa). Hanya, dalam pendidikan manusia, menurut Taxonomy Bloom, ini baru menjangkau sepertiga dari kebutuhan, yaitu pendidikan pada domain Cognitive. Sementara masih ada domain lain yaitu Affective dan Psychomotor, yang juga harus dikembangkan pada siswa didik. Ini sepertinya membutuhkan teknologi dan metoda yang berbeda.

Untuk bidang engineering seperti kita (Program Studi Teknik Elektro), yang tidak hanya perlu pengembangan pada sisi Cognitive, diperlukan juga pengembangan sisi Affective dan Psychomotor ini. Atau mungkin dua domain ini bisa diterjemahkan sebagai Attitude dan Skills.  Attitude dan Skills sebagai calon Engineer Profesional.

Pertanyaannya adalah, bentuk pendidikan apa yang cocok untuk mengembangkan sisi Affective dan Psychomotor ini?

Apakah pendidikan di dalam kelas cukup?  Mungkin pola pendidikan di kelas hanya membangun di sisi Cognitive dan sedikit di sisi Affective.

Untuk cognitive, yang era sekarang bisa digantikan oleh modelnya Khan, mungkin jauh lebih efektif dengan model Khan ini karena atensinya 100% dibandikan di dalam kelas.  Affective, mungkin hanya bisa terlihat dari interaksi dengan dosennya. Pada kelas besar pengembangan affective ini akan hilang.  Sementara itu affective sebagai calon engineer profesional tidak akan didapatkan dalam kelas.

Bagaimana dengan Skils?  Apakah melalui kegiatan Lab cukup?  Atau malah sebenarnya kegiatan praktikum di Lab lebih pada mendukung sisi Cognitive untuk menjelaskan fenomena-fenomena fisik/kimia agar lebih jelas dan comply dengan teori yang dipelajari di kelas?

Skills sepertinya lebih banyak didapat saat mahasiswa mengerjakan Tugas Akhir.  Kedua domain, Cognitive dan Skills, bisa dikembangkan melalui kegiatan ini. Sayangnya ini hanya terjadi sekali di akhir proses pendidikan kita. Tugas-tugas yang melibatkan skills pada mata kuliah tertentu mungkin bisa membantu proses pengembangan skills ini.

Tapi bagaimana dengan pengembangan Affective para siswa? Pengembangan Affective sebagai calon engineer profesional.   Di mana bisa didapatkan?

Apakah Kerja Praktek bisa memberikan proses pendidikan ketiga domain tersebut?  Sepertinya pola Kerja Praktek ini bisa menjadi ajang untuk melatih ketiga domain tersebut. Tentu dengan asumsi tempat dimana siswa magang memiliki lingkungan profesional engineer yang kita harapkan. Maksudnya, seorang calon engineer bukannya malah magang di sebuah bank yang lingkungannya bukan membentuk engineer tapi perbankan

Sayangnya, proses pemagangan ini hanya dilakukan dalam waktu yang sangat terbatas. Sehingga tidak bisa dikataka sebagai pola untuk pengembangan ketiga domain tersebut secara kontinue.

Lalu, adakah metoda lain yang bisa digunakan?

Mari kita simak proses pendidikan dari bidang disiplin ilmu lain, yang juga melatih calon lulusannya menjadi seorang profesional dalam bidangnya.  Simak pendidikan Kedokteran, yang sudah lebih tua dibandingkan pendidikan ke-engineering-an di Indonesia.

Dalam proses pendidikannya, selain mereka menggunakan pola PBL (Problem Based Learning), mereka juga memiliki tempat khusus yang bisa melatih ketiga domain tersebut setiap saat, yaitu Teaching Hospital. Setelah mereka mendapatkan Knowledge dari kelas, mempelajari fenomena di lab, melatih skill di lab klinik (dengan pemanfaatan cadaver dan manequin untuk simulasi tubuh manusia), mereka diterjunkan langsung ke Rumah Sakit Pendidikan, bersama dokter-dokter senior yang juga dosen-dosen mereka.

Melalui Rumah Sakit Pendidikan, atau Teaching Hospital, para siswa calon dokter ini mendapatkan kesempatan untuk melatih dan mengembangkan ketiga domain itu. Dgn dihadapi oleh “real case” pasien sungguhan, penyakit sungguhan, dalam lingkungan Rumah Sakit sungguhan, tapi tetap dalam lingkungan yang terbatas, terkontrol, dan masih bagian dari proses pendidikan, para siswa kedokteran ini melatih dan mengembangkan ketiga domain pendidikan tersebut, Cognitive-Affective-Psychomotor, secara terintegrasi.

Alhasil, lulusan kedokteran ini tidak canggung lagi saat harus menghadapi “real case” di dunia nyata saat baru lulus.  Berbeda dengan  lulusan engineer kita, yang pengalaman keengineeringan tiga domain itu hanya didapat pada saat terakhir mereka melakukan Kerja Praktek 2 bulan, Tugas Akhir yang hanya 6 bulan itu, atau 1 tahun bagi yang pembimbing TA nya agak idealis

Dgn menggunakan translasi domain keilmuan kedokteran ini ke dalam domain keengineeringan, dimana masing2 perlu mendapatkan pendidikan tiga domain secara proporsional, saya coba membayangkan seandainya proses pendidikan keengineeringan STEI kita seperti layaknya di fakultas kedokteran.

Seandainya di STEI masing2 Prodi (atau KK?) punya tempat semacam Teaching Factory, bagi bidang yang dekat dengan bidang manufaktur, atau Teaching Design Studio bagi bidang yang kegiatannya adalah melakukan rancangan sistem elektro atau informasi, dimana TF dan TDS ini beroperasi seperti layaknya Factory atau Design Studio profesional, mungkin mahasiswa kita bisa mendapatkan proses pendidikan yang comprehensif,ada ketiga domain tersebut.

Mungkin lulusan kita tidak canggung dan harus mengikuti training lagi, saat menghadapi real case?

Mungkin lulusan kita tidak menjadi Insinyur Sastra Elektro atau Informatika, karena telah mendapatkan proses pendidikan dengan lingkungan yang tidak jauh berbeda dg saat mereka lulus?

Ah … apakah ini hanya sebuah utopia belaka?

salam,

-ai-

Btw: Kelompok Keilmuan Elektronika dan PME sedang bekerjasama dengan beberapa Politeknik untuk  menerapkan konsep Teaching Factory ini, khusus untuk bidang Elektronika. Kita akan lihat hasilnya tahun ini

This entry was posted in akademik, teaching factory. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *