Program PhD untuk Indonesia

Oleh Adi Indrayanto, staf pengajar di STEI ITB

Mikirin konsep apalagi yg rumit dan perlu terobosan itu memang salah satu tugasnya PhD. Tapi kalau sudah jadi kegiatan rutin, mustinya bukan PhD lagi. Sayang investasi yg sudah dikeluarkan utk menjadi PhD.

Dalam proses menjaid PhD kan mustinya kita belajar banyak hal selain tentunya kasus yg mau dicari solusinya atau terobosannya. Misal Critical Thinking, Falsafat Ilmu, Metoda Penelitian, Lateral and Out of The Box Thinking (to find some inovative or new ideas) Systematic Process, Penyusunan Arguments, among others.

Sekolahnya lama, biayanya mahal, ngabisin umur pula ;-). Nah posisi para PhD adalah, mencari terobosan2 baru atau alternative solusi utk permasalahan yg dihadapi. Permasalahan tidak harus yg ada di dunia tapi mustinya ya yg ada di lokal.

Publikasi itu kan hanya salah satu media utk menyebarkan apa yg sudah ditemukan/dilakukan dan media berkomunikasi. Jadi jangan terjebak seolah-olah target akhir itu adalah publikasi. Itu salah kaprah. Bahwa setelah menemukan solusi harus disampaikan ke orang lain atau komunitas peneliti/pemerhati masalah yg sama itu betul.

Tapi menjadikan jumlah publikasi sebagai tolok ukur keberhasilan itu ya salah kaprah. Sebagai tolok ukur seberapa produktif bisa saja, walaupun tidak ada jaminan solusi2 yg diusulkan bisa berhasil digunakan 😉 Tapi target akhir adalah, solusi yg diusulkan terpakai di dunia nyata atau masyarakat. Itu ultimate goalnya ….

Memang ada kepercayaan yg berdasarkan statistik (kuantitatif), bahwa utk dapat menemukan 1 solusi yg brilliant dan tepat sasaran, di butuhkan banyak (ratusan, ribuan, jutaan) ideas solusi yg harus diusulkan ;-). Makanya itu jumlah solusi yg dihasilkan harus sebanyak-banyak nya.

Tapi, utk negara berkembang yg masih miskin dgn infrastruktur science dan teknologi nya masih buruk, kemampuan menyerap ideas yg sudah tersebar di dunia dan menterjemahkannya ke ideas yg implementable di lokal (negara berkembang) jauh lebih penting dan urgent daripada ikut2an lempar idea ke dunia. Tidak salah sih, tapi jauh lebih penting menterjemahkan atau mencari the best ideas yg ada di dunia utk menjawab kebutuhan lokal dulu …. Artinya, kemampuan membaca papers dan jurnal yg rumit2 diperlukan, lalu menterjemahkan menjadi kesimpulan atau solusi yg dibutuhkan oleh masalah lokal. Karena di negara berkembang, ada gap yg masih sangat besar antara ideas – implementasi. Apalagi sebagai engineer di negara berkembang …. prioritasnya adalah make things (ideas) happening …

Program PhD Applied Science atau Doktor Engineering seharusnya lebih bermanfaat dan menjadi prioritas utk dijalankan di Indonesia.

Demikian KulTum pagi ini 😀

salam,

-ai-

This entry was posted in akademik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *