Pentingnya Teaching Factory di Perguruan Tinggi Teknik

Dosen di sebuah perguruan tinggi teknik adalah para engineer (insinyur) yang tugasnya adalah mengajari calon insinyur juga, bukan calon dosen (saja) atau guru (saja) . Agar seorang dosen dapat mengajari calon insinyur, para dosen juga musti lengkap menjadi insinyur, bukan hanya guru (pengajar).  Jadi musti bisa seimbang antara kehidupan profesional (di bidang engineering) dan mengajar.

Sebagai analogi kita dapat bandingkan dengan sekolah dokter (fakultas kedokteran). Bayangkan seandainya dosen-dosen kedokteran itu kerjanya full mengajar saja di kampus, tidak pernah praktek di rumah sakit. Apa kira-kira saat kita
mau dibedah otaknya, kita berikan ke dokter-dokter dosen yang pengalamannya hanya mengajar ya?  Saya sih nggak mau … hehehe…

Idealnya, di setiap kampus teknologi itu punya yg namanya “teaching industry” atau “teaching factory” agar para dosen nya itu punya pengalaman menjadi “real engineer”, jadi tidak dikatakan sekedar “mroyek” (mengerjakan proyek juga sebenarnya tidak apa selama relevan dengan keahliannya).

Mahasiswa calon insinyur mustinya di tingkat2 akhir ikut terlibat sebagai co-assisten dalam mengerjakan pekerjaan ke insinyur an. Mereka harus belajar dari awal bagaimana bekerja sebagai insinyur. Nah, utk itu dosen2 nya juga harus menjadi “real engineer”.  Baru Indonesia bisa maju dunia iptek dan industrinya.

Saat ini, kita menuju yg namanya keahlian “sastra engineering”, dengan keluaran utama paper/makalah, yang tidak berakhir ke produk.

Sebagai sebuah negara berkembang yang hanya memproduksi paper, tidak heran kita mengimpor semua keperluan kita

Ide tulisan dari bapak Adi Indrayanto, staf pengajar di STEI –  ITB (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung)

Editor: Waskita Adijarto

 

This entry was posted in teaching factory. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *