Jangan Kuatir Dengan China

Ada penulis barat yang menyanggah kekhawatiran mengenai ‘keperkasaan’/dominasi  China sebagai    pemasok/pusat industri manufaktur dunia.

Sanggahan tsb menggunakan ‘argumentasi sejarah’:

  • setelah Revolusi Industri ( 1780 ) an,       banyak orang mengkhawatirkan, Inggris akan        mendominasi industri dunia, karena sudah        ‘mencuri start dalam pengembangan teknologi        mekanisasi’
  • Apalagi dengan dominant nya Inggris dalam      menguasai dearah-daerah koloni sebagai pusat       pasokan bahan baku, serta sebagai pasar produk industri nya.
  • kekhawatiran di atas tidak terbukti, negara=2 Eropa yg lain dgn cepat mengimbangi Inggris di dalam inovasi teknologi Industri ( mesin uap dan lokomotif memang dipelopori oleh Inggris tapi Teknologi Otomotif dipelopori oleh Jerman )
  • Kemudian Amerika pun muncul sebagai kekuatan Industri berikutnya ( dimulai dari industri mobil Ford di tahun 1920 ), dan industri militer ( dan industri tricle down nya ) sejak PD-II.
  • Jepang kemudian muncul sbg kekuatan Industri baru, utamanya di hidang Elektronika dan Otomotif ( dimulai tahun 1970-an, dan mencapai puncaknya di tahun 1980-an )
  • Tahun 1990 an Korea muncul menyaingi Jepang di kedua       sektor industri di atas ( Elektronika dan Otomotif ):       Samsung, Daewoo, Hyundai, etc etc …
  • Tahun 2000 an China dengan perlahan dan pasti mulai       meneguhkan posisinya sebagai negara industri manufaktur       kelas dunia …

Berarti … Setelah ‘Era China’ lewat, akankah berarti muncul kekuatan-kekuatan yang lain?
***
Yang di atas itu hanya argumentasi analogi historis yang   hasilnya sulit diprediksikan dari awal … paling-paling   menggunakan buku-2 Primbon Ramalan Joyoboyu, John Naisbitt, dsb

***

Argumentasi yang menurut saya lebih rasional untuk ‘menghibur’ agar negara-2 lain tidak perlu terlalu kecil hati dengan  bayangan dominasi China ( “yang menciptakan langit dan bumi memang Tuhan, tetapi     semua barang manufaktur yang meramaikan bumi, ….      adalah buatan China … :-)) “)

adalah argumentasi Demografis. Why?

Mesin ekonomi, terutama jika mengandalkan Industri Manufaktur
sangat bergantung pada tenaga kerja. Nah, banyak orang tidak
menyadari, bahwa lambat laun China juga akan dibuat pusing
untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerjanya. Mengapa?

banyak orang hanya membayangkan ‘keperkasaan’ bangsa China
dihitung dari ‘jumlah absolut’ penduduknya yang mencapai
1 milyard lebih, … banyak yang melupakan sisi struktur
demografis dari 1 milyar penduduk ini. Pertanyaannya adalah

==> berapa sebenarnya prosentase ‘usia produktif’ dari 1
milyar penduduk ini?

Sebagaimana banyak di alami negara-2 industri lainnya, China
juga mengalami masalah penuaan susunan penduduk ( population
aging ) karena 2 hal:

  • Angka kelahiran yang rendah ( kurang dari 2 / Ibu )  Ini diperparah oleh kebijakan pemerintah China membatasi       jumlah anak: 1 anak / keluarga di China sejak 1979
  • Angka rata-2 harapan hidup yang semakin tinggi  artinya, jumlah penduduk Manula ( > 65 tahun ) di China  akan semakin besar prosentasenya dibandingkan dengan jumlah  penduduk usia kerja / usia produktif …

Angka-angka hasil kajian demografis menunjukkan:

  • jumlah penduduk China akan mencapai puncaknya di tahun 2030      ( mencapai angka sekitar 1.5 milyar )
  • komposisi penduduk usia kerja vs usia Manula mencapai      kondisi paling ideal / maksimum di tahun 2010 ( setahun      yang lalu ), sejak itu prosentase usia Manula di China akan semakin tinggi, monotonically thd jumlah penduduk usia produktif

Di bawah ini saya sertakan gambar-2 grafik trend demografi  China, saya ambil dari kertas kerja yang ditulis oleh sebuah regu peneliti Universitas Hardvard  http://www.hsph.harvard.edu/pgda/WorkingPapers/2010/PGDA_WP_53.pdf

— oOo —
Di samping itu banyak hal-hal lain yang merupakan ‘bom waktu’  yang bisa menurunkan daya saing industri China di masa depan:

-> trend ‘demokratisasi’ serta naik nya taraf hidup penduduk
China akan menyebabkan naik nya upah buruh di China

( saat ini pusat-2 industri di daerah pesisir: Shanghai,
Shenzen, sudah sulit dikembangkan karena langka dan mahal
nya tenaga kerja; China terpaksa membuka sentra-2 industri
baru di dareah yg lebih ke ‘pedalaman/hinterland’ ini akan
bisa menyebabkan naik nya beaya logistik ).

-> ketergantungan China pada bahan mentah dan energi dari luar
( benar bahwa China juga mengunci beberapa bahan baku yg
sangat khusus spt yg untuk bahan magnet : rare earth elements
dsb ). Tapi untuk bahan-2 yang lebuh sederhana: spt Gas
Alam, Kayu, dsb China jelas kekurangan )

SO, please don’t worry about China, be happy :-))

– ihsan –

Artikel ini ditulis oleh Ihsan Hariadi, staf dosen STEI-ITB dan diedit oleh Waskita Adijarto, staf dosen STEI-ITB.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *